Maestro Ogoh-ogoh Bali, seniman lokal dengan kreativitas tanpa batas dan intelektualitas guna lestarikan adat, budaya, dan tradisi Bali. Mulai dari Kedux, Marmar Herayukti, hingga Gusman Surya. Baca selengkapnya di bawah ini!
Dalam rangka menyambut tahun baru caka, masyarakat Bali punya tradisi yang unik dan sangat menarik. Tidak hanya bagi umat Hindu namun bagi semua kalangan masyarakat yang ada di Pulau Dewata bahkan wisatawan yang berlibur ke Pulau Dewata. Perayaan hari raya Nyepi memang menjadi salah satu yang paling ditungu-tunggu.
Bagi umat Hindu, khususnya para yowana atau pemuda, perayaan Nyepi menjadi salah satu momentum bagi mereka untuk berkreasi dan bersinergi. Pemuda Bali merayakan tahun baru caka dengan membuat sebuah kreativitas yang kita semua kenal dengan istilah ogoh-ogoh.
Berdasarkan beberapa sumber Ogoh-ogoh pada awalnya mulai populer sekitar tahun 1980an. Dengan segenap imajinasi dan wawasan pemuda dan warga Bali memahami sebuah penciptaan karya ogoh-ogoh, terciptalah berbagai kreasi yang sampai saat ini terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Ogoh-Ogoh sebagai Respresentasi Visual Aura & Energi Negatif
Ogoh-ogoh merupakan representasi dari butha kala dan semua hal yang berkaitan dengan aura dan energi negatif. Patung raksasa ini diarak berkeliling kawasan banjar, atau desa yang mana kemudian menyerap unsur-unsur negatif yang ada di kawasan tersebut dan kemudian dihancurkan dalam Bahasa Bali dikenal dengan istilah nyomia bhuta kala. Aura dan energi negatif yang kemudian berkumpul menjadi satu di dalam ogoh-ogoh tersebut kemudian dihancurkan dengan dibakar sebagai bentuk harmonisasi terhadap berbagai energi dan aura yang negatif pada diri manusia dan lingkungannya.
Tujuan pembersihan ini tiada lain merupakan bentuk pembersihan diri dan lingkungan atau Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Dimana menuju hari raya Nyepi, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian. Lalu apa itu Catur Brata Penyepian? Nah ini merupakan 4 jenis larangan yang pantang untuk dilakukan oleh umat Hindu saat hari raya Nyepi. Selengkanya kalian bisa baca disini.
Maestro Ogoh-Ogoh
Nah kembali membahas Ogoh-ogoh. Di Bali sejatinya tidak ada istilah maestro ogoh-ogoh. Ini karena sejatinya dulu tidak ada 1 orang yang menonjol dalam pembuatan kreasi dan karya unik ini. Dulu pemuda saling merangkul dan bekerja sama untuk menghasilkan sebuah karya yang dikenal dengan ogoh-ogoh. Tidak ada pernah yang mengatasnamakan pribadi melainkan sebuah hasil pekerjaan kolektif.
Maestro Ogoh-Ogoh Bali Modern
Bali kini mengenal istilah Maestro Ogoh-ogoh, seseorang yang merancang dan membuat sebuah karya seni ogoh-ogoh atas nama sebuah banjar atau desa. Meskipun pada dasarnya merupakan pekerjaan kolektif, namun kredit khusus untuk sang perancang atau seniman kian menjadi perhatian serius. Hal ini mengingat ide dan pemikiran adalah sebuah hal yang berharga dan patut diberikan apresiasi lebih.
Beberapa tahun belakangan muncul nama-nama seperti Kedux Garage salah satu pentolan NK-13, komunitas motor kustom yang sangat terkenal di Bali hingga mancanegara. Ada juga seniman tattoo yang dulu sempat menjadi vokalis band Ripper Clown, Marmar Herayukti hingga nama seniman dari Tampak Siring, Gianyar yaitu Gus Man Surya. Di tahun 2025 kemarin salah satu ogoh-ogoh dari kawasan Tampak Siring berjudul Tulak Tunggul juga menghebohkan jagat media social. Ogoh-ogoh yang diarsiteki oleh Mang Egik itu kian viral dan menjadi buah bibir di masyarakat Bali hingga luar Bali. Nah lebih lanjut tentang maestro ogoh-ogoh tersebut kita bahas selengkapnya di bawah ini.
Marmar Herayukti
Lahir dan besar di Denpasar, seniman asal Banjar Gemeh ini memulai karir sebagai seorang tattoo artis dan memiliki studio bernama Sang Mong Tatto. Marmar juga seorang musisi, dia sempat menjadi pengisi suara band rap-emo Bali yaitu Ripper Clown. Salah satu band Bali yang sangat terkenal di zamannya hingga hari ini.
Beberapa tahun belakangan, Marmar dikenal sebagai seniman ogoh-ogoh dan sculptor. Karya ogoh-ogohnya bersama Sekaa Truna Gemeh Indah diantaranya Ki Ai Nirnur, Laliaran, Saranatamantra, Meme Dewa Ratu, Taru Pule, Paksi Ireng, Sang Maung Pati,
Marmar terkenal dengan karya yang ramah lingkungan. Ia juga gencar menyuarakan ogoh-ogoh ngulat(anyaman bambu sebagai dasar) dan terbilang anti-spoon/stereofom atau penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan. Salah satu ciri khas dari ogoh-ogoh karya Marmar adalah detail ogoh-ogoh yang sangat dipikirkan dengan baik. Setiap inci dari badan serta aksesoris ogoh-ogohnya selalu ditampikan dengan penuh detail yang sangat ciamik dan menambah taksu dari karya-karyanya.
Di tahun 2026, Marmar bersama sekaa truna Gemeh Indah kini merancang sebuah ogoh-ogoh yang cukup berbeda. Namun sampai hari ini belum ada sketsa ataupun penyataan resmi tentang konsep dan tema ogoh-ogoh yang akan mereka angkat. Wah gimana bikin penasaran kan ton. Semua pasti tidak sabar melihat maha karya sang Maestro Ogoh-Ogoh Banjar Gemeh ini.
Kedux Garage
Nah bergerak ke utara dari Banjar Gemeh. Salah satu arsitek dan maestro Ogoh-Ogoh dari Banjar Tainsiat yang sering ditunggu-tunggu berbagai kalangan. Komang Gede Sentana Putra atau Kedux adalah salah satu pemuda Denpasar yang dikenal melalui komunitas motor kustom bernama NK-13. Komunitas motor ini bahkan sudah melalang buana di dunia motor kustom tanah air hingga manca negara. Bengkelnya yang berlokasi di Gang Nangka ini sudah sangat terkenal bahkan sering kali diliput berbagai media. Gokil sih Kedux dan komunitasnya ya.
Nah bicara soal Ogoh-Ogoh, Kedux bersama Banjar Tainsiat ini mencoba untuk menggabungkan elemen tradisional dan modernisasi dengan sentuhan robotik dan mekanikal. Ini mengingat Kedux adalah seorang builder. Dari beberapa tahun belakangan unsur robotik dan mekanikal selalu hadir dalam karya Kedux bersama Yowana Banjar Tainsiat. Karya-karya mereka diantaranya Ratu Sumedang, Siwer Mas ,Tedung Agung, Kepet Agung , Celuluk, Garuda Suwarnakaya, hingga Bhuta Ngawesari.
Pada tahun 2026 ini Kedux bersama Yowana Tainsiat merancang Ogoh-Ogoh bertajuk GAJAH. Isu kerusakan lingkungan yang belakangan menjadi penyebab becana di sekitaran kita membuat Kedux dan Tainsiat terpanggil untuk mengangkat isu ini. Konsep dan tema ogoh-ogoh ini diterjemahkan kedalam bentuk GAJAH. Penasaran dengan karya mereka tahun ini. Cek update pengerjaan mereka di Instagram Kedux Garage atau Sekaa Truna Tainsiat.
Gusman Surya
Tidak datang dari Denpasar melainkan Maestro ini datang dari kabupaten yang dipenuhi dengan para seniman, yap Gianyar. Kabupaten ini memiliki pematung, pelukis, pengrajin perak, pengrajin gerabah, dan masih banyak karya seni lainnya. Gusman Surya, pemuda dari Desa Tampak Siring ini hadir ke khalayak masyarakat banyak dengan mempopulerkan ogoh-ogoh ciri khas kawasan tersebut. Ogoh-ogoh dengan anatomi yang besar dan menjulang tinggi.
Selain Gusman Surya, Ogoh-Ogoh Tulak Tunggul yang viral dan menjadi buah bibir tahun lalu yang merupakan karya pemuda Sentana Luhur Tampak Siring yaitu Mang Egik juga patut diacungi jempol dan apresiasi yang tinggi.
Mungkin 3 Maestro Ogoh-ogoh ini hanya segelintir nama dari sekian banyak orang yang hebat dan kreatif dalam merancang dan membuat ogoh-ogoh di Pulau Dewata. Faktor sosial media exposure dan story tellingjuga berpengaruh bagi kehadiran dan kepopuleran maestro-maestro ogoh-ogoh lainnya di Bali.
Pada dasarnya semua warga Bali ingin tradisi ogoh-ogoh ini tetap ajeg dan lestari. Munculnya nama-nama maestro ini diharapkan membangkitkan semangat warga Bali untuk terus berkarya dan bekreatifitas demi melestarikan adat, budaya, dan tradisi di Bali di tengah gempuran turisme masal dan gentrifikasi yang semakin parah di Pulau Dewata.
Nah sekian dulu ulasan tentang Maestro Ogoh-ogoh Bali. Bila ada seniman ogoh-ogoh yang wajib kita tulis lagi, tulis di kolom komentar ya semeton!
Selamat menyambut hari raya Nyepi Caka 1948!
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar hiburan dan liburan di Bali hanya di www.jalanmelali.com
