• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

jalanmelali

Sharing Local Experience

  • Home
  • NEWS
  • PLACE TO GO
  • TREND-CULTURE
  • COMMUNITY
  • CULINARY
  • SHOWBIZZ
  • ABOUT
    • SITEMAP
    • CONTACT
    • PRIVACY POLICY

7 Desa Wisata di Bali yang Masih Sepi & Alami

January 27, 2026 by jalanmelali Leave a Comment

Bali memang identik dengan pantai ramai dan beach club yang hits. Tapi buat semeton yang rindu suasana tenang, udara segar, dan kehidupan lokal yang masih otentik, desa wisata di Bali yang masih sepi justru jadi harta karun tersembunyi. Desa-desa ini menawarkan pengalaman berbeda mulai dari berjalan di antara rumah tradisional, bertegur sapa dengan warga lokal, hingga menikmati alam tanpa keramaian.

Nah, berikut 7 desa wisata di Bali yang masih sepi dan alami, cocok buat healing, slow travel, atau sekadar kabur sebentar dari hiruk pikuk pariwisata massal di Pulau Dewata Bali.

desa wisata di bali yang masih sepi
Instagram/ petanifoto

1. Desa Sidatapa, Desa Bali Aga yang Tenang di Utara Bali

Terletak di Kabupaten Buleleng, Desa Sidatapa merupakan salah satu desa Bali Aga yang masih mempertahankan adat dan tata ruang kuno. Rumah-rumah penduduk tersusun memanjang mengikuti kontur bukit, dengan latar pegunungan hijau yang menenangkan.

Aktivitas favorit di sini antara lain trekking ringan, belajar tradisi Bali Aga, dan menginap di homestay milik warga. Karena lokasinya cukup terpencil, desa ini masih sangat sepi dari wisatawan.

2. Desa Tenganan Pegringsingan, Tradisi Kuno yang Masih Hidup

Meski namanya cukup dikenal, Tenganan masih tergolong desa wisata yang relatif tenang, terutama di hari biasa. Desa ini terkenal dengan kain gringsing dan tradisi perang pandan yang sakral.

Semeton bisa berjalan santai menyusuri desa, melihat proses menenun kain, dan berbincang langsung dengan warga lokal. Suasananya jauh dari kesan wisata massal seperti di Bali selatan. Desa Tenganan ini juga sering dijadikan tempat untuk wedding photography.

3. Desa Penglipuran (di Pagi Hari), Sepi, Bersih, dan Asri

Penglipuran memang populer, tapi kalau datang pagi-pagi sekali, suasananya masih sangat tenang. Udara sejuk khas Bangli dan jalan desa yang bersih membuat pengalaman berkunjung terasa lebih intim.

Datanglah sebelum jam 9 pagi untuk merasakan sisi alami Penglipuran, saat warga masih beraktivitas dan belum dipadati rombongan wisatawan. Pastikan juga kalian mencoba loloh cem-cem yang hanya ada di desa ini, minuman tradisional semacam jamu yang daunnya hanya ada di desa Penglipuran. 

4. Desa Les, Desa Pesisir Sepi untuk Slow Living

Desa Les di Kecamatan Tejakula adalah surga tersembunyi di Bali Utara. Pantainya berbatu, lautnya tenang, dan kehidupan warganya berjalan sangat santai.

Cocok untuk semeton yang ingin snorkeling tanpa keramaian, yoga retreat kecil, atau sekadar menikmati matahari terbit di tepi laut. Desa ini belum tersentuh pariwisata besar, jadi suasananya masih benar-benar autentik.

5. Desa Belimbing, Sawah Terasering Tanpa Keramaian

Kalau terasering di Jatiluwih terasa terlalu ramai, Desa Belimbing bisa jadi alternatif. Desa ini dikelilingi sawah terasering, sungai kecil, dan jalur trekking alami.

Semeton bisa menginap di eco-lodge atau homestay, ikut aktivitas bertani, atau sekadar berjalan kaki menyusuri persawahan. Suasananya sunyi, cocok untuk refleksi diri dan digital detox.

6. Desa Tigawasa, Anyaman Bambu & Budaya Bali Aga

Masih di Buleleng, Desa Tigawasa dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Desa ini juga termasuk desa Bali Aga, dengan adat dan tradisi yang masih kuat.

Wisatawan yang datang biasanya benar-benar ingin belajar budaya, bukan sekadar foto-foto. Karena itu, suasananya tetap sepi dan sangat lokal.

7. Jatiluwih (Area Pinggiran Desa), Alami & Lebih Sunyi

Area utama Jatiluwih memang sangat ramai, tapi jika semeton menjelajah ke bagian pinggiran desa atau menginap di area yang jauh dari pintu masuk utama, suasananya jauh lebih tenang.

Pagi dan sore hari adalah waktu terbaik untuk menikmati hamparan sawah, kabut tipis, dan aktivitas petani tanpa gangguan keramaian. Ada banyak juga hidden homestay dan lodge yang bisa temen-temen sewa di kawasan ini. 

Menjelajahi desa wisata di Bali yang masih sepi bukan cuma soal mencari tempat baru, tapi juga tentang menghargai ritme hidup lokal dan alam yang masih terjaga. Desa-desa ini mengajak semeton untuk pelan-pelan, berinteraksi dengan warga, dan merasakan Bali yang lebih jujur.

Kalau semeton suka traveling dengan konsep mindful, slow, dan penuh makna, tujuh desa di atas wajib masuk wishlistperjalanan berikutnya. 

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya tentang hiburan dan liburan di Bali lainnya hanya di www.jalanmelali.com

Filed Under: Place to Go Tagged With: desa wisata di bali yang masih sepi

Primary Sidebar

Where to Eat!

terra verte Ubud

Terra Verte: Pengalaman Bersantap Mediterania yang Tenang dan Berkelas di Ubud

kuliner malam Bali

Kuliner Malam Bali: Nasi Men Lotri hingga Warung Laota Tuban

6 Makanan Khas Bali yang Halal dan Wajib Kamu Coba

babi guling di denpasar

8 Tempat Makan Babi Guling di Denpasar yang Wajib Kamu Coba!

A Day in Uluwatu: Berjemur di Pantai Padang-Padang & Brunch di Banyoo, Pecatu

coffee shop di Kintamani

Montana Del Cafe: Pioneer Coffee Shop Estetik di Kawasan Gunung Batur Kintamani Bangli

Footer

Seedbacklink

jalanmelali.com

East or West, Bali is the Best!

  • Facebook
  • Instagram

Copyright © 2025 Jalan Melali - All Rights Reserved

Share

Blogger
Bluesky
Delicious
Digg
Email
Facebook
Facebook messenger
Flipboard
Google
Hacker News
Line
LinkedIn
Mastodon
Mix
Odnoklassniki
PDF
Pinterest
Pocket
Print
Reddit
Renren
Short link
SMS
Skype
Telegram
Tumblr
Twitter
VKontakte
wechat
Weibo
WhatsApp
X
Xing
Yahoo! Mail

Copy short link

Copy link