Denpasar, tak hanya jadi pusat kota dan pemerintahan. Pusat mode, tren, perekonomian hingga tempat lahir dan berkumpulnya seniman Bali dan tokoh-tokoh terkenal di Pulau Dewata.
Kota madya di Pulau Dewata yang jadi titik tumpu perkembangan gaya hidup masyarakat Bali. Begitulah kira-kira masyarakat Bali hari ini berpendapat. Sebagai pusat ekonomi di Pulau Dewata, kota ini menjadi tujuan merantau sebagian besar warga Bali dari seluruh pelosok, bahkan dari luar Bali juga. Meski awalnya merupakan bagian dari Badung, kini kedua wilayah ini saling bahu-membahu menjadi tulang punggung Pulau Dewata. Nah disisi lain, kota ini sudah terkenal sejak dulu akan peninggalan sejarah dan budaya. Ada banyak seniman, budayawan, dan orang-orang pesohor lahir di kota ini. Nama-nama yang mungkin kalian kenal sepeti Kedux, Marmar Herayukti, Prof Bandem, dan masih banyak yang lainnya adalah bagian dari kota ini. Belum lagi seniman dan pesohor lainnya yang juga tumbuh dan besar di kota madya yang satu ini.

Ulasan lain tentang kota-kota dan kawasan wisata di Indonesia dapat kalian cek di Situs Resmi Naga169 Travel. Nah balik lagi tentang Denpasar, Kini kota madya ini menjadi kiblat anak muda dan skena di Pulau Dewata, tanpa mendiskreditkan kota atau kabupaten yang lain di Bali. Nah lalu, bagaimana sebenarnya sejarah kota Denpasar? Apa arti kata Denpasar ? Buat semeton yang penasaran bisa cek ulasan di bawah ini.
Arti Nama Denpasar
Denpasar terdiri dari 2 kata yaitu Den dan Pasar. Den memiliki arti utara dan Pasar yang berarti pasar. Jadi Denpasar berarti utara pasar, mengingat Taman Denpasar berlokasi di utara pasar.
Sejarah
Alkisah pada abad ke-18 dan abad ke-19, Bali masih sebuah pulau dengan pemerintahan kerajaan di setiap daerahnya (sekarang Kabupaten). Pemerintah Kerajaan Badung dibagi menjadi 2 pemerintahan wilayah yaitu Puri Pemecutan (wilayah barat Tukad Badung) yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Gede Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya (wilayah timur Tukad Badung) yang dipimpin oleh Kyai Hambe Ksatrya. Ketua raja kerajaan Badung ini adalah keturunan dari Kyai Jambe Pula.
Sebelum menjadi Ibu Kota Provinsi Bali, dulunya kota ini adalah sebuah taman yang berada di bawah pemerintahan Kerajaan Badung. Taman Denpasar merupakan taman kesayangan dari Raja Badung saat itu yang bernama Kyai Jambe Ksatrya. Beliau begitu sayang dengan taman ini dan menjadikan Taman Denpasar sebagai tempat berkumpul beliau dengan raja – raja Bali lain untuk sabung ayam atau di Bali disebut Metajen.
Pada saat itu Taman Denpasar ini begitu tradisional, akan tetapi semua berubah ketika peristiwa 20 September 1906 atau yang dikenal dengan Perang Puputan Margarana terjadi. Pemerintah Kerajaan Badung beserta Puri dan Taman Denpasar jatuh sepenuhnya pada Kolonial Belanda. Pihak Belanda menjadikan sebuah tempat bekas yang ada di Taman Denpasar, Puri Denpasar sebagai Kantor Residen Bali Selatan dan Kontroleur Badung.
Selama masa pemerintahan oleh Kolonial Belanda, Kerajaan Badung terutama wilayah Puri Ksatrya berubah total menjadi tempat yang memiliki toko, rumah sakit, tempat ibadah, dan lain – lain. Hal ini dikarenakan pihak Belanda yang melihat peluang pada wilayah – wilayah Bali.
Hingga sampai Denpasar resmi menjadi kota oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan keturunan dari Puri Pemecutan, perubahan dan effort yang dilakukan oleh pihak Kolonial Belanda membuat Bali banyak dikunjungi oleh wisatawan Mancanegara yang penasaran akan budaya Bali yang Tradisional dan unik. Puri Denpasar pun dibangun ulang oleh Cokorda Alit Ngurah pada tahun 1929 dan sekaligus beliau menjabat menjadi Regent Badung saat itu. Namun dikarenakan lokasinya masih membekas dengan wilayah pemerintahan Puri Jambe Ksatrya, masyarakat Bali justru menyebutnya sebagai “Puri Ksatrya” hingga sekarang.
Taman Denpasar sendiri sekarang menjadi Jaya Sabda atau rumah jabatan Gubernur Bali. Kemudian kawasan sekitarnya menjadi villa peristirahatan.
Peresmian Kota Denpasar
Pada masa kemerdekaan, Peresmian Kota Denpasar pun terjadi. Tertulis dalam Undang – Undang Nomor 69 tahun 1958 Denpasar menjadi pemerintahan daerah Kabupaten Badung, lalu dilanjutkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 Tanggal 23 Juni 1960, Denpasar ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang semulanya berkedudukan di Singaraja.
Secara administratif resmi menjadi kota menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978. Kota Denpasar resmi menjadi Kota Madya pada tanggal 27 Februari 1992. Penetapan ini dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1992.
Nah akhirnya tau kan kalau Denpasar awalnya bukan berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari Kabupaten Badung sebelum akhirnya dipisahkan sebagai Ibu Kota Provinsi Bali. Makanya kalau kalian ditanya sama orang tua, kakek atau nenek kalian di rumah, “Kapan ke Badung? Kapan pulang dari Badung?” Padahal kita tinggal di Denpasar. Pasti pernah lah ya mengalami hal tersebut. Kalian harap maklum nih ton, karena mereka tau bahwa Badung dan Denpasar itu satu, dan Badung jauh lebih terkenal daripada Denpasar.
Peluang Kota Denpasar
Bali begitu indah dan unik sudah tidak bisa dibantah, banyak tempat wisata Bali ada dari Kota Denpasar sehingga wisatawan domestik maupun internasional berbondong – bondong untuk menikmati keindahan alam Bali. Pemerintahan setempat pun melihat lonjakan yang besar semenjak tahun 2000 (lonjakan wisatawan yang datang mencapai 1.4 juta pengunjung yang diidentifikasi terbanyak berasal dari negara Jepang , lalu dilanjutkan dengan Australia, Taiwan, Eropa, Inggris, Amerika, Singapura, dan Malaysia). Salah satu wisata yang terkenal adalah Pantai Sanur karena ramai dikunjungi oleh wisatawan penyuka pantai, serta tak kalah Taman Puputan Badung (Paru – Paru Kota Denpasar) yang merupakan taman terbuka hijau ramai pengunjung lokal dan domestik terutama saat weekend.
Meskipun tidak seperti Badung yang banyak memiliki pantai dan tempat wisata, kota ini tetap menjadi tujuan banyak wisatawan khususnya domestik. Meskipun begitu banyak juga kini wisatawan mancanegara yang berwisata kota, sejarah, museum, hingga mengujung pasar-pasar yang ada di kota madya ini.
Hari ini Denpasar masih jadi kota utama di Bali yang jadi pusat tren & mode. Kiblat tentang musik, fesyen, hingga gaya hidup tetap mengarah ke apa yang warga Denpasar gunakan dan pakai. Ini juga menciptakan peluang industri-industri baru seperti dunia kreatif yang kini semakin populer di kalangan masyarakat. Banyak pegiat industri kreatif di Denpasar yang juga punya pengaruh ke daerah-daerah lain di Bali. Festival-festival besar juga kian terus bermunculan di kota madya ini dan memberikan pengaruh yang luas ke daerah-daerah di Bali lainnya.
Gimana? Sudah kebayang kan sejarah Denpasar? Semoga bisa menambah wawasan semeton ya!
Jangan lewatkan ulasan menarik lainnya seputar hiburan dan liburan di Bali hanya di www.jalanmelali.com
