Cerita dongeng populer di Bali berikut ini adalah Sebagian kecil dari cerita rakyat yang berkembang di Pulau Dewata. Mulai dari Kebo Iwa hingga Jayaprana & Layonsari. Simak selengkapnya di bawah ini!
Mendongeng adalah salah satu kegiatan literasi yang bisa sangat baik untuk meningkatkan daya berpikir dan kreativitas seseorang. Tidak jarang ketika kecil, kita sering sekali diberikan cerita-cerita dongeng oleh orang tua atau bahkan kakek nenek kita di rumah. Tentu hal itu beralasan, tidak hanya sebatas hiburan namun juga melatih pikiran kita untuk berimajinasi.
Dongeng juga salah satu media pembelajaran yang bagus, mulai dari mendengarkan kemudian memvisualisasikannya menjadikan setiap orang berimajinasi tanpa batas sesuai dengan kemampuan dan daya berpikirnya masing-masing. Nah di Indonesia sendiri, ada begitu banyak dongeng yang berkembang di masyarakat luas. Semeton juga bisa cek dongeng-dongeng tersebut di ceritadongeng.id

Di Bali sendiri juga ada banyak dongeng yang berkembang luas di kalangan warga Bali. Nah berikut ini kita akan bahas beberapa cerita dongeng populer di Bali di bawah ini.
1. I Kebo Iwa
Nah cerita dongeng popular di Bali yang pertama adalah I Kebo Iwa. Dongeng ini berasal dari tradisi lisan rakyat Bali dan sering dikaitkan dengan sejarah masuknya pengaruh Majapahit ke Bali.
I Kebo Iwa merupakan seorang raksasa atau dalam beberapa versi digambarkan sebagai manusia berukuran besar. Ia adalah sosok yang sangat kuat dan memiliki kekuatan luar biasa. Tak hanya digambarkan sebagai sosok yang perkasa namun juga berhati mulia dan selalu membantu rakyat Bali. Kebo Iwa menggali sumur, membangun pura, serta mengangkat batu besar tanpa kesulitan, demi kesejahteraan rakyat.
Namun, kekuatan I Kebo Iwa membuatnya ditakuti oleh kerajaan Majapahit. Para petinggi Majapahit merasa bahwa selama I Kebo Iwa masih hidup, mereka tidak akan bisa menaklukkan Bali.
Akhirnya, Majapahit menyusun strategi untuk menipu dan menyingkirkan I Kebo Iwa. Mereka berpura-pura bersahabat dan meminta bantuan Kebo Iwa untuk membangun sumur besar. Saat Kebo Iwa sedang bekerja di dalam sumur, Majapahit yaitu di bawah naungan patih Gajah Mada kala itu menimbunnya dengan batu dan tanah, hingga ia mati terperangkap di dalamnya.
Makna Cerita Dongeng I Kebo Iwa
Mengajarkan tentang kebaikan hati, pengkhianatan, serta kekuatan yang bisa menjadi ancaman jika tidak dikendalikan dengan bijak. Tetap waspada adalah salah satu hal yang sangat utama. Selain itu, penghianatan pada orang baik juga sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji.
2. Ni Bawang dan Ni Kesuna
Nah cerita dongeng populer di Bali berikutnya adalah Ni Bawang & Ni Keduna. Dongeng ini populer di kalangan rakyat Bali, sering diceritakan kepada anak-anak sebagai pelajaran moral tentang kebaikan dan kejahatan.
Alkisah, hiduplah dua gadis bersaudara yaitu Ni Bawang, anak tiri yang baik hati, dan Ni Kesuna, anak kandung dari ibu tiri yang pemalas, dengki, dan kasar. Ibu tiri selalu memanjakan Ni Kesuna, sedangkan Ni Bawang diperlakukan layaknya pembantu. Ia disuruh bekerja keras setiap hari mengerjakan berbagai perkerjaan di rumah.
Suatu hari, Ni Bawang disuruh pergi ke sungai untuk mencuci. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan nenek tua yang meminta bantuan. Dengan tulus, Ni Bawang menolong sang nenek. Sebagai balasan atas kebaikannya, nenek itu menghadiahinya bunga ajaib. Saat bunga itu dibawa pulang, muncullah emas dan permata dari dalamnya.
Melihat hal itu, ibu tiri dan Ni Kesuna pun menjadi serakah. Mereka menyuruh Ni Kesuna berpura-pura menjadi baik agar mendapat hadiah juga. Namun saat bertemu nenek tua, Ni Kesuna bersikap kasar dan tidak sopan.
Akibatnya, saat membawa bunga yang didapat, ular dan binatang buas keluar dari dalamnya. Ni Kesuna dan ibunya pun mendapat pelajaran pahit karena keserakahan dan sifat buruk mereka.
Makna Cerita Dongeng Ni Bawang & Ni Kesuna
Pada dasarnya kebaikan akan selalu menemukan kebaikan dan menang atas segala kejahatan. Kebaikan dan ketulusan akan selalu membawa berkah. Di lain sisi, kejahatan akan selalu dibalas dengan kejahatan, karena itu semua adalah wujud dari maha adil
3. Calon Arang
Cerita dongeng populer di Bali yang ketiga adalah Calon Arang. Dongeng ini berasal dari masa kerajaan Kediri, Jawa Timur. Namun sangat populer di Bali karena menjadi bagian penting dalam tradisi pertunjukan dramatari seperti Barong dan Wayang Calonarang, yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.
Calon Arang merupakan seorang janda sakti mandraguna dari desa Girah. Ia dikenal sebagai dukun ilmu hitam yang sangat ditakuti. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Ratna Manggali, namun tidak ada pria yang mau melamar anaknya karena takut pada ibunya.
Merasa dipermalukan dan marah karena anaknya tidak kunjung menikah, Calon Arang pun menggunakan ilmunya untuk menyebarkan wabah penyakit, kekacauan, dan kematian di kerajaan Kediri. Banyak orang tak bersalah yang kemudian menjadi korban.
Raja Kediri akhirnya meminta bantuan Mpu Bharadah, seorang pendeta sakti dan bijaksana. Untuk mengalahkan Calon Arang, Mpu Bharadah mengirim muridnya, Mpu Bahula, untuk menikahi Ratna Manggali. Setelah mereka menikah, rahasia ilmu hitam Calon Arang akhirnya diketahui.
Dengan ilmunya, Mpu Bharadah berhasil mengalahkan Calon Arang dan menghentikan teror yang menimpa rakyat Kediri.
Makna Cerita Dongeng Calon Arang
Amarah dan dendam senantiasa akan membawa orang ke jurang kehancuran. Menyalahgunakan ilmu untuk hal-hal kejahatan tentu bukan perbuatan yang terpuji apalagi demi ambisi pribadi.
Kisah Calon Arang ini sering dipentaskan dalam ritual pembersihan atau pengusiran roh jahat di Bali. Sosok Calon Arang sering dikaitkan dengan Rangda, ratu leak dan simbol kejahatan dalam kepercayaan Bali.
4. Jayaprana dan Layonsari
Nah cerita dongeng populer di Bali yang terakhir adalah Jayaprana & Layonsari. Dongeng ini berasal dari daerah Buleleng, Bali Utara, dan merupakan salah satu kisah cinta tragis paling terkenal dalam sastra lisan Bali. Cerita ini juga menjadi bagian dari ritual dan budaya setempat, seperti dalam seni tari dan nyanyian rakyat.
Alkisah, di Kerajaan Kalianget, Buleleng, hiduplah seorang pemuda tampan dan berbudi pekerti luhur bernama Jayaprana. Ia anak yatim piatu yang diangkat oleh raja dan dibesarkan di lingkungan istana.
Saat dewasa, Jayaprana jatuh cinta kepada seorang gadis cantik dari desa bernama Layonsari. Mereka saling mencintai, dan pernikahan mereka pun direstui oleh raja. Namun, setelah melihat kecantikan Layonsari, raja jatuh cinta padanya dan timbul niat jahat untuk merebutnya.
Raja kemudian menyuruh Jayaprana bertugas ke hutan di Teluk Terima (Bali Barat) dengan dalih menjaga kerajaan. Di sana, Jayaprana dibunuh oleh prajurit suruhan raja.
Ketika Layonsari mengetahui kematian suaminya dan niat jahat raja, ia merasa hancur dan memilih bunuh diri, menolak menikah dengan sang raja.
Makna Cerita Jayaprana & Layonsari
Kesetian tidak pernah ada harganya, bahkan dalam cerita ini. Layonsari memilih bunuh diri karena saking setia dan begitu cintanya dengan Jayaprana.
Kini , tempat terbunuhnya Jayaprana dipercaya berada di kawasan Teluk Terima, Bali Barat, dan ada makam Jayaprana yang menjadi tempat ziarah hingga kini. Kisah Jayaprana & Layonsari ini sering diangkat dalam sendratari, drama tari, dan cerita rakyat sebagai simbol kesetiaan sejati.
Nah itulah cerita dongeng populer di Bali. Salah satu diantaranya juga sering menjadi cerita dongeng yang mengantarkan anak-anak Bali kecil tidur. Gimana ton? Kalau kalian sering didongengin cerita yang apa saat sebelum tidur dulu?
Jangan lewatkan artikel atau ulasan menarik lainnya seputar hiburan & liburan di Bali hanya di www.jalanmelali.com
